Resources for Single Christians

‘Kami Tidak Tahu Harus Berbuat Apa, Namun Mata Kami Tertuju Pada-Mu.’

103 0

Dua belas kata yang mengubahkan untuk memimpin di masa yang tidak terduga.

Kami tidak tahu harus berbuat apa, namun mata kami tertuju pada-Mu. 2 Tawarikh 20:12

Di dalam Perjanjian Lama Raja Yosafat menerima kabar bahwa tiga pasukan laskar bersekongkol bersama dan melawannya dalam satu serangan besar-besaran, dia mengambil langkah-langkah yang menentukan dan kepemimpinan yang tidak seperti lazimnya.

Setiap pemimpin di seluruh dunia berada di dalam kesulitan yang sama.

Dihadapkan pada tiga cabang persoalan besar sebagai akibat dari kemajuan zaman; pandemi kesehatan global, ekonomi dunia yang menjerit, dan orang-orang yang hidup dalam krisis kecemasan dan ketakutan — apa yang dapat kita pelajari dari pemimpin kuno ini yang dapat dipakai pada hari-hari ini?

Yosafat tidak memiliki peluang yang baik, dan, sejujurnya, hal ini tidak terlalu bagus untuk banyak keluarga dan bisnis saat ini.

Jauh di lubuk hati, sebagian besar pemimpin yang telah mengalami badai yang kejam tahu bahwa kita akan mampu melewatinya. Kita selalu mampu melakukannya. Kita akan bertahan dalam pembantaian ini dan muncul dari kedalaman untuk tumbuh dan berkembang lagi. Tetapi itu akan memakan waktu — waktu yang cukup lama. Saat ini, kita berada di dalam lembah bayang-bayang maut.

Jadi bagaimana kita berjalan melewati masa-masa kelam ini?

Mari kita perhatikan dengan cermat jalan yang dipilih Yosafat.

Pertama, dia menyerukan orang-orang untuk mencari Tuhan. Raja berdoa dengan dua belas kata yang transformasional ini — Kami tidak tahu harus berbuat apa, namun mata kami tertuju pada-Mu.

Kita tidak memiliki semua kebebasan untuk secara bersama menyerukan orang-orang kita untuk mencari Tuhan. Tetapi setiap pemimpin memiliki kesempatan untuk secara pribadi mencari bantuan dari surga sebelum memimpin orang lain ke kancah itu.

Pada dasarnya, …

Continue reading


Source: Christianity Today Magazine

Facebook Comments